Aku tidak gila. . .!!

Aku tidak gila...

Tuhan telah menciptakan begitu banyak mahkluk istimewa di muka bumi ini, dan dia adalah satu diantara sekian banyak mahkluk istimewa yang Tuhan cipta, beruntungnya aku karena mahkluk itu kini menjadi sosok yang begitu menyayangiku. Namanya Draka, aku mengenalnya  selama belasan tahun... Saat orangtuaku mulai mengijinkanku berjalan keluar rumah, dan saat itulah Draka datang untuk pertama kalinya. Seorang laki-laki dewasa yang selalu mengawasiku dan membimbingku saat kedua orangtuaku disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan mereka. Ya... Draka ada disana, di tengah waktu-waktu yang hilang antara aku dan kedua orangtuaku.

"Ka, aku mau minta ditemenin jajan!!!"

"Ka, aku bingung mau pilih sd yang mana..."

"Ka, anak kelas 2D itu nakal sekali!! Selalu gangu aku!!!"

"Ka, aku susah tidur... Malam ini datang ke rumahku yah!! Aku rindu saat saat kecil dulu, rasanya ingin dibacakan lagi cerita pengantar tidur olehmu... Tenang aja, mama papa ku sedang ke luar kota..."

"Ka, besok aku ulangtahun ke 17. Aku mau hadiah hadiah hadiah!!"

Begitulah Draka, 80% kehidupanku diisi oleh dirinya. Hampir semua keputusan yang kubuat selalu diputuskan bersama-sama dengannya. Sosoknya tak pernah berubah, selalu bijaksana... Dewasa... Penuh senyum. Dia datang dan pergi begitu cepat, saat aku membutuhkannya. Tak seperti kedua orangtuaku, yang mungkin hanya mengisi 5 % kehidupanku. Tanpa bimbingan Draka, mungkin aku tak akan bisa kuat dan bertahan seperti saat ini.

Draka berumur 22 tahun, dan aku kini 19... Umur yang sepadan untuk saling mengasihi, dan begitu sepadan jika aku memang harus terus bersamanya. Selama aku hidup, tak pernah ada satupun orang yang bisa benar-benar berteman denganku... Mereka bilang aku aneh, aku gila, aku egois. Hanya beberapa orang saja yang datang menemuiku saat pekan ujian, biarpun aneh... Prestasiku di bidang akademis cukup membanggakan, semua berkat Draka yang selalu rajin mengajariku banyak ilmu. Draka merupakan mahasiswa perguruan tinggi ternama kota ini, teknik informatika adalah jurusan yang diambilnya. Papa memintaku meneruskan jenjang pendidikan S2 kelak di Amerika, padahal sekarang saja aku baru duduk di semester 2. Entah kenapa rencana Papa itu membuatku semakin merasa jauh dengan Papa, aku benci dia yang tiba-tiba merencanakan hal yang tak aku inginkan, padahal selama ini aku menentukan banyak pilihan tanpa campur tangannya. Betapa hebat menjadi orangtua, mereka bisa seenaknya mengatur jalan hidup anak-anaknya. Yang kuinginkan adalah segera menyelesaikan kuliahku dan pergi bersama Draka...

"Ka, aku mau pergi ke tempat foto copy, ngecopy banyak tugas kuliahku. Kamu mau ikut? Aku ga akan bawa mobil, mau jalan kaki ajah... Ke komplek sebelah." Draka menggelengkan kepalanya, "Kamu pergi sendiri saja ya? Aku ga temenin gapapa ya? Kan masih siang, ga akan ada apa-apa, ngga usag takut...". Aku tersenyum membalasnya, " Yeeey siapa bilang aku takuttt?!?! Kan aku daritadi juga ga bilang gitu weeeks, yaa kali aja kamu mau romantis-romantisan sama aku jalan berdua hihi. Ah siapa juga yang mau liat ya ka?!?! Ya udah tunggu aku ya, aku pergi bentar ko."

Draka sedikit tertawa geli melihat tingkahku, aku memandangnya sebelum pergi sambil terbahak melihat reaksi wajahnya... Betapa aku menyayanginya... Betapa beruntungnya aku memilikinya...

Gerah sekali siang ini, berkali kali kuusap peluh yang membasahi keningku sementara tangan kiriku membawa beberapa lembar berkas data yang akan ku fotocopy. Masih tinggal beberapa blok lagi namun rasanya terasa begitu berat karena udara yang begitu pengap mencucurkan banyak keringat. Jalanan perumahan ini tak biasanya seramai ini, motor dan mobil bersliweran dengan kecepatan tinggi, lagi-lagi menghambat perjalananku. Rambutku yang terurain panjang mulai beruraian menutupi mata sebelah kanan akibat terpaan debu yang terhempas mobil yang barusan melaju cukup kencang melintas disampingku. "Astaga!! Bisa ngga sih nyetirnya santey woy!!!!", aku berteriak cukup keras disertai acungan jari tengah tanganku ke arah mobil itu. Tanganku kembali membetulkan posisi rambut ke posisi seperti biasanya, tangan kiriku rupanya agak kerepotan memegangi banyak berkas, hingga satu persatu berkas ditanganku mulai berjatuhan. "Huh!!! Sialan!!", kupunguti berkas itu satu persatu, salah satunya jatuh tepat ditengah jalanan. Aku memang pemarah dan tidak sabaran hingga tanpa pikir panjang badanku melompat ketengah jalan.

Sebuah mobil yang sedang melaju di jalan itu dengan kecepatan yg sama seperti mobil tadi tiba-tiba tampak begitu jelas di depan kedua mataku. Mataku terbelalak kaget, begitupula mata pengendara mobil itu yang sama kagetnya sepertiku. Suara benturan tubuhku dengan mobil itu terdengar begitu jelas sesudahnya... Tak terelakan.

"Draka...", hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.

"Ti, Titi... Bangun sayang...", wajah Draka memenuhi mataku saat ini. "Ka, aku dimana? Kenapa aku?", dengan perasaan bingung aku mencoba menebak-nebak yang sebelumnya terjadi kepadaku. "Kamu masih disini, jalanan menuju tempat foto copy", jawaban Draka sama sekali tak memuaskan rasa ingin tahuku. Kutatap suasana disekitarku, masih dalam posisi terbaring... Astaga, begitu banyak orang mengelilingiku, sebagian menangis memandangku... Sisanya sibuk hendak mendekatiku dan mengangkat tubuhku. Benar saja, beberapa laki-laki bertubuh besar kompak mencoba mengangkat tubuhku. "Ka, apa-apaan sih orang-orang ini?! Aku ga kenapa napa ko mereka sibuk banget sih?!", aku berusaha mengelak sementara Draka hanya diam memandangiku dengan wajah sedihnya. "Loh ka! Ka! Ko gini sih?! Ka! Ka! Mereka ko maksa ngangkat tubuh... Ku...", tenggorokanku tercekat setelahnya.

Kulihat tubuhku diangkat oleh mereka, tangisan orang-orang disekelilingku semakin pecah. Mataku menatap lurus pada Draka, yang dilakukan Draka hanya menganggukkan kepalanya ke arahku... Sambil terus menunduk perih. Saat itulah aku tersadar... Tubuhku dibawa pergi, sedang entah apa aku sekarang ini karena bisa kulihat tubuhku pergi meninggalkanku sementara aku masih terkulai lemas diatas jalanan... Dan mereka semua, tak menyadari keberadaanku...

"Ka...?!", tanpa menjawab pertanyaanku Draka terus menerus mengangguk seperti mengiyakan pertanyaan yang belum sempat terlontar dari mulutku.

"Mama... Pa...", saat itulah kepalaku mulai dipenuhi sosok kedua orangtuaku, perasaan bersalah karena belum banyak menghabiskan waktu dengan mereka tiba tiba saja muncul. Draka menggenggam tanganku seolah tahu apa yang ada di dalam kepalaku.

"Mereka akan baik-baik saja... Begitu pula kamu, aku benar-benar bisa menjagamu kini", senyumnya merekah membuatku mulai mengangkat kepalaku menatapnya. "Ka, mereka semua salah ya Ka... Mereka bilang aku gila, mereka bilang aku aneh karena sering berbicara denganmu... Ternyata kamu benar-benar ada dan sekarang benar-benar bisa kusentuh", tanganku mula antusias memegangi wajah Draka. Draka hanya tersenyum sambil mengusap-usap rambutku. "Akan kutunjukkan banyak hal yang pasti kau ingin tahu..."

Kulangkahkan kakiku, melangkah menuju tempat dimana seharusnya aku berada. Draka yang selama ini mereka bilang teman imajinerku lah yang membimbingku untuk terus berjalan tanpa harus menatap kebelakang. Terimakasih Tuhan telah menciptakan mahkluk istimewa sepertinya, dan menjadikanku mahkluk pendampingnya yang akan mengikuti langkahnya entah sampai kapan...

Mama... Papa... Aku baik-baik saja, Draka benar-benar bisa kalian andalkan... Suatu saat semoga bisa kukenalkan dia pada kalian.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji untuk Damar